Blog

Data Kependudukan

Secara umum data dapat diartikan sebagai kumpulan informasi yang diperoleh dari suatu pengamatan berupa angka, lambang atau sifat yang dapat memberikan gambaran tentang suatu keadaan atau persoalan. Data juga dapat didefinisikan sebagai sekumpulan informasi atau nilai yang diperoleh dari pengamatan (observasi) suatu objek. Oleh karena itu data yang baik adalah data yang bisa dipercaya kebenarannya (reliable), tepat waktu dan mencakup ruang lingkup yang luas atau bisa memberikan gambaran tentang suatu masalah secara menyeluruh merupakan data relevan.

Sedangkan kependudukan atau demografi merupakan ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Demografi meliputi ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan.

Analisis kependudukan dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan,agama atau etnisitas tertentu.

Dengan demikian data kependudukan adalah segala tampilan data penduduk dalam bentuk resmi maupun tidak resmi yang diterbitkan oleh badan-badan pencatatan kependudukan (pemerintah maupun non pemerintah), dalam berbagai bentuk baik angka, grafik, gambar dan lain lain.

Secara khusus UU No.24 Tahun 2013 pasal 1 point 9 menyebutkan bahwa data kependudukan adalah data perseorangan dan/atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil dari kegiatan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.

Satu dekade terakhir Kementerian Dalam Negeri cq. Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil, telah melakukan pendataan penduduk dengan membangun database penduduk yang sistematik, terstruktur dan saling berhubungan dengan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras dan jaringan komunikasi data. Data base penduduk tersebut disimpan dalam data center yang terletak di kantor Kementerian Dalam Negeri Jl. Merdeka Selatan Jakarta Pusat, Ditjen Kependudukan dan Pencatatan Sipil Jl. Taman Makan Pahlawan No. 17 Jakarta Selatan, dan di Pulau Batam.

Untuk mendukung pendataan penduduk tersebut telah disahkan Undang Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan dan direvisi terakhir menjadi Undang Undang Nomor 24 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Undang Undang Nomor 23 Tahun 2006 tentang Administrasi Kependudukan.

Dalam UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan, data dikelompokkan menjadi :

1. Data Pribadi adalah data perseorangan tertentu yang disimpan, dirawat, dan dijaga kebenaran serta dilindungi kerahasiaannya (pasal 1 point 22).

2. Database adalah kumpulan berbagai jenis data kependudukan yang tersimpan secara sistematik, terstruktur dan saling berhubungan dengan menggunakan perangkat lunak, perangkat keras dan jaringan komunikasi data (pasal 1 point 29 PP No. 37 Tahun 2007).

3. Data Kependudukan adalah data perseorangan atau data agregat yang terstruktur sebagai hasil kegiatan pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil.

Data perseorangan menurut UU No. 24 Tahun 2013, pasal 58 ayat 2, meliputi nomor Kartu Keluarga; Nomor Induk Kependudukan; nama lengkap; jenis kelamin; tempat lahir; tanggal/bulan/tahun lahir; golongan darah; agama/kepercayaan; status perkawinan; status hubungan dalam keluarga; cacat fisik dan/atau mental; pendidikan terakhir; jenis pekerjaan; NIK ibu kandung; nama ibu kandung; NIK ayah; nama ayah; alamat sebelumnya; alamat sekarang; kepemilikan akta kelahiran/surat kenal lahir; nomor akta kelahiran/nomor surat kenal lahir; kepemilikan akta perkawinan/buku nikah; nomor akta perkawinan/buku nikah; tanggal perkawinan; kepemilikan akta perceraian; nomor akta perceraian/surat cerai; tanggal perceraian; sidik jari; iris mata; tanda tangan; dan elemen data lainnya yang merupakan aib seseorang.

4. Data agregat adalah kumpulan data tentang peristiwa kependudukan, peristiwa penting, jenis kelamin, kelompok usia, agama, pendidikan, dan pekerjaan (penjelasan pasal 58 ayat 3 UU No. 24 Tahun 2013).

Data kependudukan hasil pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil dijamin keamanannya dan kerahasiaannya oleh Negara dengan menyimpannya di Data Center. Data Center digunakan sebagai tempat atau ruang penyimpanan perangkat database pada penyelenggara pusat yang menghimpun data kependudukan dari penyelenggara provinsi, penyelenggara kabupaten/kota dan instansi pelaksana (pasal 1 point 30 PP No. 37 Tahun 2013).

Data pribadi penduduk yang memuat keterangan tentang cacat fisik atau cacat mental, sidik jari, iris mata , tanda tangan, dan elemen data lainnya yang merupakan aib seseorang harus dilindungi kerahasiaannya (pasal 84 ayat 1) dan ketentuan lebih lanjut seperti tersebut pasal 84 ayat 1 diatur dalam Peraturan Pemerintah.

Data kependudukan yang dihimpun dari pendaftaran penduduk dan pencatatan sipil menjadi data agregat penduduk yang meliputi himpunan data perseorangan berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data Kependudukan tersebut digunakan untuk semua keperluan berasal dari Kementerian Dalam Negeri (pasal 58 UU No. 24 Tahun 2013), antara lain dimanfaatkan untuk :

1. Pelayanan publik antara lain untuk penerbitan surat izin mengemudi, izin usaha, pelayanan wajib pajak, pelayanan perbankan, pelayanan penerbitan sertifikat tanah, asuransi, jaminan kesehatan masyarakat, dan jaminan sosial tenaga kerja.

2. Perencanaan pembangunan yakni untuk perencanaan pembangunan nasional, perencanaan pendidikan, perencanaan kesehatan, perencanaan tenaga kerja, dan pengentasan masyarakat dari kemiskinan.

3. Alokasi anggaran meliputi penentuan Dana Alokasi Umum (DAU) dan perhitungan potensi perpajakan.

4. Pembangunan demokrasi yaitu penyiapan Data Agregat Kependudukan per kecamatan (DAK2) dan penyiapan data Penduduk Potensial Pemilih Pemilu (DP4).

5. Penegakan hukum dan pencegahan kriminal antara lain untuk memudahkan pelacakan pelaku kriminal, mencegah perdagangan orang dan mencegah pengiriman tenaga kerja illegal.

Sejalan dengan terbangunnya database kependudukan maka perlu pula diperjelas perihal pengaturan hak akses atas pemanfaatan data kependudukan baik bagi petugas pada penyelenggara, instansi pelaksana, dan pengguna data kependudukan. Dengan demikian perlu diterapkan sanksi pidana bagi setiap penduduk sehingga tidak ada lagi diskriminasi sesama penduduk maka diperlukan penyesuaian besarnya sanksi pidana bagi penduduk Warga Negara Indonesia maupun penduduk Warga Negara Asing.

Ketentuan pidana tentang penyalahgunaan data kependudukan dalam UU Nomor 24 Tahun 2013 tentang Administrasi Kependudukan, antara lain :

1. Pasal 94 menyebutkan bahwa setiap orang yang memerintahkan atau memfasilitasi, memanipulasi data kependudukan atau elemen data penduduk. Bagi yang melanggar ketentuan tersebut sesuai dengan pasal 77 dapat pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak Rp. 75.000.000 (tujuh puluh lima juta rupiah).

2. Pasal 95A menyebutkan bahwa setiap orang yang tanpa hak menyebarluaskan data kependudukan sesuai dengan ketentuan pasal 79 ayat (3) dan data pribadi seperti diatur dalam pasal 86 ayat (1a) dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun dan denda paling banyak sebesar Rp 25.000.000 (dua puluh lima juta rupiah).

3. Pasal 95B menyebutkan bahwa setiap pejabat dan petugas pada desa/kelurahan, kecamatan, UPT instansi pelaksana dan instansi pelaksana yang memerintahkan atau memfasilitasi dan melakukan pungutan biaya kepada penduduk dalam pengurusan dan penerbitan dokumen kependudukan sebagaimana diatur dalam pasal 79A dapat dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun atau denda paling banyak Rp 75.000.0000 (tujuh puluh lima juta rupiah).

4. Pasal 96 menyebutkan bahwa setiap orang atau badan hukum yang tanpa hak mencetak, menerbitkan dan mendistribusikan blangko dokumen kependudukan sesuai dengan bunyi pasal 5 huruf f dan g akan dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun atau denda sebanyak-banyaknya Rp 1.000.000.000 (satu miliar rupiah).

Dengan diterapkannya sanksi pidana tersebut diharapkan petugas dan pengguna data kependudukan tidak berwenang menyebarluaskan data kependudukan yang tidak sesuai dengan kewenangannya.

Penyajian data kependudukan berskala provinsi (pasal 6 UU NO. 24 Tahun 2013)dan penyajian data kependudukan berskala kabupaten/kota (pasal 7 UU NO. 24 Tahun 2013) berasal dari data kependudukan yang telah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian Dalam Negeri.

Data Kependudukan diterbitkan secara berkala, untuk skala Nasional, skala Provinsi dan Kabupaten/Kota diterbitkan per semester yaitu semester pertama diterbitkan tiap tanggal 30 Juni dan semester kedua diterbitkan tanggal 31 Desember setiap tahun kelender (penjelasan pasal 5 s/d 7 UU No. 24 Tahun 2013).

Khusus untuk Provinsi DKI Jakarta sesuai kekhususannya berbeda dengan provinsi yang lain karena diberi kewenangan untuk menyelenggarakan Administrasi Kependudukan seperti kabupaten/kota. (pasal 7 ayat2)

Pemanfaatan data kependudukan oleh lembaga negara, kementerian/lembaga pemerintah non kementerian atau badan hukum Indonesia adalah data kependudukan yang sudah dikonsolidasikan dan dibersihkan oleh Kementerian Dalam Negeri (pasal 58 ayat 4 UU No. 24 Tahun 2013).

Dengan terwujudnya database kependudukan yang valid dapat dipergunakan sebagai data/bahan/masukan untuk pembangunan database kependudukan kabupaten, juga sebagai dasar dalam pemberian NIK kepada setiap penduduk, untuk mendukung tertib administrasi kependudukan, tertib administrasi pelayanan publik, pelaksanaan pemilu dan untuk pelaksanaan pemilu Kepala Daerah serta dalam jangka panjang digunakan sebagai data dasar dalam rangka Pembangunan Database Penduduk Nasional. (brm)
Ditjen Dukcapil Kemendagri

16 komentar pada “Data Kependudukan”

  1. KUSNAWAN    

    DATA PENDUDUK DESA PAKEMBANGAN MANDIRANCAN KUNINGAN MINTA DITAMPILKAN

    • Dukcapil GK    

      @Kusnawan kami hanya bisa menyediakan data untuk Wilayah Kabupaten Gunungkidul. Untuk wilayah lain silahkan menghubungi kabupaten yang berwenang. Terimakasih atas kunjungannya.

  2. Edi Pranoto    

    Sebelumnya mohon maaf agak menyimpang dari tema
    saya hanya ingin mengajukan pertanyaan mengenai masalah pembuatan KTP
    yang mana orang tua saya kelahiran di gunungkidul yang samasekali tidak mempunyai data kependudukan baik itu akta kelahiran, kartu keluarga, surat nikah dan lainnya…..
    berikut penjelasannya,
    saya mau menanyakan bagaimana langkah pengurusan pembuatan ktp yang samasekali tidak ada identitas yang terdata di kelurahan atau dimanapun, sebab orang tua saya dari dulu tidak punya ktp maupun identitas lainnya,tempat lahir orang tua saya di gunung kidul dan sebagian keluarga orang tua saya masih berada di gunungkidul tepatnya di desa patuk, rencananya mau saya masukkan di kartu keluarga saya, tapi ya itu tadi mentok di pengurusan ktpnya….
    mohon penjelasannya terimakasih

    • Dukcapil GK    

      Untuk kasus-kasus yang spesifik silahkan melakukan konsultasi via WA H. Eko Subiantoro, SH. 081328580058 (Gunungkidul). Untuk daftar kontak seluruh indonesia dapat anda unduh disini dukcapil.kemendagri.go.id/izCFiles/uploads/downloads/No_WA_Dukcapil_Daerah_13-06-2016.pdf
      Semoga informasi ini bermanfaat.

    • sri sumiyati    

      Sdr. Edi Pranoto, untuk memperoleh identitas seseorang harus terdaftar dalam Kartu KK terlebih dahulu. Sebaiknya orang tua sdr dicarikan Kartu KK (bisa sbg KK sendiri atau ikut dalam KK anaknya. Penerbitan KK dilakukan setelah memenuhi syarat: surat pengantar RT/RW dan Kades/lurah, fc akta perkawinan (jika tidak mempunyai minta surat keterangan menikah/tidak menikah dari desa tempat tinggal disertai fc KTP 2 orang saksi), Kartu KK lama karena penambahan/pengurangan anggota keluarga. Kartu KK ini merupakan salah satu syarat mendapatkan KTP.

  3. edi pranoto    

    Sedikit tambahan lagi, mengenai data2 orang tua saya tidak ada pada kartu keluarga (mbah) orang tua dari ibu saya juga…..
    jika dapat di uruskan mohon hubungi ke email ( edy_pranata@yahoo.co.id )
    terimakasih

  4. LM. Arjuna    

    Dapatkah Masyarakat Meminta Data Pebduduk Pada Dinas Catatan Sipil sebab didapati banyak perpindahan penduduk yg ilegal untuk kepentingan Pilkada

    • Dukcapil GK    

      Perpindahan penduduk yang ditangani dukcapil legal karena berdasarkan aturan yg ada, hrs melampirkan syarat2 yg harus dipenuhi misalnya harus menyerahkan ktp di tempat yg baru serta mendapat surat pengantar pindah dari tempat asal.(Sri Sumiyati/Kabid Data Dan Informasi)

      • Sri Sumiyati    

        Yang berkaitan dengan permintaan data penduduk harus sesuai SOP (Standart Operasional Prosedur) diantaranya permohonan data ditujukan kpd Bupati cq. Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil. Setelah Bupati memberikan ijin pemanfaatan dan akses data, pihak pemohon membuat surat pernyataan (untuk tidak menyalah gunakan pemanfaatan data) bermeterai serta foto copy KTP.
        Persyaratan pindah, mengajukan permohonan masuk penduduk dengan menyertakan bukti pendukung, antara lain:
        1. Surat Keterangan Pindah WNI
        2. Biodata penduduk
        3. KTP asli dari daerah asal
        4. Foto copy akta kelahiran
        5. Foto copy surat nikah (apabila sudah menikah)
        6. Foto copy ijasah terakhir
        7. Foto copy KK yang ditumpangi
        8. Pas foto 3×4 dua lembar
        9. Surat Kuasa (jika menguasakan)
        10. Foto copy KTP yang diberi kuasa

  5. saryanto    

    yth. disdukapil GK

    mohon informasi mengenai fformulir pengurusan akta,ktp dan kk .apakah saat ini sudah tersedia versi digitalnya. untuk didownload dan dipergunakan untuk keperluan pengurusan pembuatan data penduduk.

    suwun

  6. Erna Widiarsi    

    Maaf sebelumnya sebab saya mau mengirim pertanyaan di kolom “Tanya” tapi gagal sehingga saya mengajukannya di kolom komentar ini. Saya akan mengurus pindah penduduk dari Gunungkidul ke Bantul. Dan kebetulan saya sudah menikah. Syarat-syarat apa saja yang perlu dipersiapkan? Bisa hubungi via e-mail saya. Terimakasih.

  7. amrizal    

    maaf sebelumnya, saya mau menanyakan apakah boleh desa mengeluarkan ktp untuk orang yang tidak berdomisili di desa tersebut dan bila ktp nya sudah dikeluarkan apakah yg bersangkutan bisa dikatakan warga sementara dia berdomisili di daerah lain, mohon bantuannya..terimakasih

    • Dukcapil GK    

      Kewenangan untuk menerbitkan KTP adalah Instansi Pelaksana (Dinas Kepencucukan dan Pencatatan Sipil). Sesuai dengan yang tercantum dalam Pasal 1 butir ke-14 UU No. 24/ 2013:
      “Kartu Tanda Penduduk Elektronik, selanjutnya disingkat KTP-el, adalah Kartu Tanda Penduduk yang dilengkapi cip yang merupakan identitas resmi penduduk sebagai bukti diri yang diterbitkan oleh Instansi Pelaksana”. Maka dari itu desa tidak berhak untuk menerbitkan KTP.

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*