Blog

  • Home /
  • Berita/Pengembangan Penduduk (Modal Pembangunan Negara)

Pengembangan Penduduk (Modal Pembangunan Negara)

1. Latar Belakang.
Semua bangsa atau negara yang maju, sejahtera dan modern sejak dulu, sekarang, dan yang akan datang adalah karena mereka memiliki SDM yang unggul, berkualitas dan berdaya saing tinggi. Dengan begitu akan mampu melakukan inovasi secara kreatif dan cerdas dalam mengelola sumber daya alam (SDA) yang bernilai tinggi bahkan mampu menciptakan Sumber Daya Buatan (SDB) dengan nilai tambah (added value) yang sangat tinggi.
Pertambahan nilai pada SDA dan SDB yang optimal akan mampu mereduksi bahkan menghilangkan eksploitasi SDA seperti yang banyak terjadi khususnya pada negara-negara berkembang. Ini berarti bahwa di tangan SDM yang berkualitas tinggi dengan daya saing tinggi maka pengelolaan dan pemanfaatan SDA akan sustainable (berkelanjutan), kerusakan lingkungan dapat diminimalisasi, dan kesejahteraan rakyat suatu bangsa akan tercapai.
Dengan demikian, pengembangan SDM bagi suatu negara adalah suatu keniscayaan atau keharusan. Sebab pengembangan SDM adalah investasi negara yang akan menentukan kemajuan bangsa tersebut, kini dan di masa depan. Pengembangan itu dilakukan melalui kebijakan-kebijakan politik dalam sebuah negara.

2. Pengertian Penduduk
2.1. Pengertian Dasar Tentang Kependudukan
Para ahli membedakan antara ilmu kependudukan (demografi) dengan studi-studi tentang kependudukan (population studies). Demografi berasal dari bahasaYunani demos: penduduk dan Grafien: tulisan atau dapat diartikan tulisan tentang kependudukan adalah studi ilmiah tentang jumlah, persebaran dan komposisi kependudukan serta bagaimana ketiga faktor tersebut berubah dari waktu kewaktu. Ilmu demografi juga ada yang bersifat kuantitatif dan yang bersifat kualitatif. Demografi yang bersifat kuantitatif (kadang-kadang disebut Formal Demography–Demography Formal) lebih banyak menggunakan hitungan-hitungan statistik dan matematik. Tetapi Demografi yang bersifat kualitatif lebih banyak menerangkan aspek-aspek kependudukan secara deskriptif analitik. Sedangkan studi-studi kependudukan mempelajari secara sistematis perkembangan, fenomena dan masalah-masalah penduduk dalam kaitannya dengan situasi sosial di sekitarnya.
2.2. Tujuan dan Kegunaan Ilmu Kependudukan
Dalam mempelajari demografi tiga komponen terpenting yang perlu selalu kita perhatikan adalah cacah kelahiran (fertilitas), kematian (mortalitas) dan migrasi. Sedangkan dua faktor penunjang lainnya yang penting ialah mobilitas sosial dan tingkat perkawinan. Ketiga komponen pokok dan dua faktor penunjang kemudian digunakan sebagai variabel (pengubah) yang dapat menerangkan hal ihwal tentang jumlah dan distribusi penduduk pada tempat tertentu, tentang pertumbuhan masa lampau dan persebarannya. Tentang hubungan antara perkembangan penduduk dengan berbagai variabel (perubah) sosial, dan tentang prediksi pertumbuhan penduduk di masa mendatang serta berbagai kemungkinan akibat-akibatnya.
Berbagai macam informasi tentang kependudukan sangat berguna bagi berbagai pihak di dalam masyarakat. Bagi pemerintah informasi tentang kependudukan sangat membantu di dalam menyusun perencanaan baik untuk pendidikan, perpajakan, kesejahteraan, pertanian, pembuatan jalan-jalan atau bidang-bidang lainnya. Bagi sektor swasta informasi tentang kependudukan juga tidak kalah pentingnya.
Para pengusaha industri dapat menggunakan informasi tentang kependudukan untuk perencanaan produksi dan pemasaran.
Teori Kependudukan
1. Teori Sosial
2. Teori Natural
3. Teori Transisi Demografi
Teori Sosial
1. Robert Malthus (pesimistis)An Essay on Population :Penduduk berkembang menurut deret ukur (1, 2, 4, 8, …), sedangkan bahan pangan berkembang menurut deret hitung (1, 2, 3, 4, …).
Kelemahan :
a. Tidak memperhitungkan kemajuan transportasi
b. Tidak memperhitungkan kemajuan bidang teknologi (terutama pertanian)
c. Tidak memperhitungkan usaha pembatasan kelahiran.
2. Arsene Dumont (kapilaritas sosial) Dimana manusia selalu ingin meningkatkan status sosialnya. Semakin tinggi status sosialnya, semakin enggan memproduksi anak dan makin lepas dari lingkungan natural dan keluarganya.

Teori Natural
1. Raymond S. Pearl (sudut pandang naturalistik ) Arah pertumbuhan penduduk mengikuti kurva normal, akibat pengaruhkepadatan penduduk di ruang hidup. Semakin tinggi kepadatan penduduk,maka tingkat fertilitas berkurang. Jika ada perubahan, misalnya sistemekonomi berubah, maka akan terbentuk kurva normal yang baru.
2. Corrado Gini (sudut pandang statistik biologi) Pertumbuhan penduduk mengikuti kurva parabola matematik. Mula-mula pertumbuhan cepat, mencapai kedewasaan, kemudian tua dan menurun jumlahnya berdasarkan kondisi sel-sel tubuh manusia. Turunnya daya reproduksi karena kelelahan psikologis akibat persaingan dalam masyarakat.
3. Michael T.Sadler dan Thomas Doubleday (sudut pandang fisiologis) Sadler mengemukakan, bahwa daya reproduksi manusia dibatasi oleh jumlah penduduk yang ada di suatu wilayah atau negara. Jika kepadatan penduduk tinggi, daya reproduksi manusia akan menurun, sebaliknya jika kepadatan penduduk rendah, daya reproduksi manusia akan meningkat. Teori Doubleday hampir sama dengan teori Sadler, hanya titik tolaknya berbeda. Kalau Sadler mengatakan bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan tingkat kepadatan penduduk, maka Doubleday berpendapat bahwa daya reproduksi penduduk berbanding terbalik dengan bahan makanan yang tersedia. Jadi kenaikan kemakmuran menyebabkan turunnya daya reproduksi manusia. Jika suatu jenis makhluk diancam bahaya, mereka akan mempertahankan diri dengan segala daya yang mereka miliki. Mereka akan mengimbanginya dengan daya reproduksi yang lebih besar (Iskandar, 1980). Menurut Doubleday, kekurangan bahan makanan akan merupakan perangsang bagi daya reproduksi manusia, sedang kelebihan pangan justru merupakan faktor pengekang perkembangan penduduk. Dalam golongan masyarakat yang berpendapatan rendah, seringkali terdiri dari penduduk dengan keluarga besar, sebaliknya orang yang mempunyai kedudukan yang lebih baik biasanya jumlah keluarganya kecil.

Teori Transisi Demografi
Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.Tahap 1: Jika Angka kematian tinggi sebanding dengan angka kelahiran, menghasilkan angka pertumbuhan nol (zero).Tahap 2: Jika Angka kematian menurun tidak disertai dengan penurunan angka kelahiran, maka akan menghasilkan angka pertumbuhan yang positif dan meningkat terus.Tahap 3: Jika Angka kematian terus menerus dan disertai dengan menurunnyaangka kelahiran, maka akan menghasilkan pertumbuhan yang positif akan tetapi menurun.Tahap 4: Jika Angka kematian dan angka kelahiran juga rendah, maka hasilnya adalah pertumbuhan yang semakin berkurang yang pada akhir akanmencapai nol (zero).

PERTUMBUHAN PENDUDUK.
Pertumbuhan penduduk di dunia selalu menunjukkan angka yang positif. Artinya tingkat penduduk yang lahir (natalitas) lebih banyak dari pada angka penduduk yang mati (mortalitas) dan juga jumlah penduduk dalam tingkat migrasi lebih mengarah pada angka dimana penduduk pendatang lebih banyak dari pada penduduk yang pergi terutama di daerah perkotaan. Pertumbuhan yang sangatbesar ini menjadikan momok tersendiri bagi masyarakat penghuni dunia dengan segala resiko dari segi perekonomian maupun wilayah yang masih tersedia di bumi. Terlebih dengan meningkatnya layanan kesehatan dan perkembangan teknologi di bidang kesehatan maupun layanan masyarakat saat ini, menjadikan salah satu indikator menurunnya tingkat kematian (mortalitas) jika dibandingkan dengan beberapa dekade silam, terutama saat-saat setelah perang dingin. Pertumbuhan penduduk yang tinggi menuntut daya produksi yang tinggi dalam rangka untuk menanggulangi atau memenuhi hajat hidup masyarakat tersebut.
Banyak negara-negara di dunia yang tergerus oleh inflasi maupun kemiskinan jangka panjang dikarenakan tidak sesuai dengan pertumbuhan penduduk yang terjadi di negara tersebut. Contohnya di bidang ekonomi Indonesia, kemiskinan dan krisis moneter tidak bisa dielakkan lagi dengan salah satu penyebabnya adalah tidak seimbangnya tingkat produksi dengan tingkat pertumbuhan penduduknya. Rata-rata tingkat pertumbuhan penduduk Indonesia pada periode 1980-1990 mencapai angka 1,98 % dan pada periode 1990-2000 mencapai 1,49 %. Angka ini menjadikan Indonesia masuk dalam jajaran negara-negara dengan kepadatan penduduk yang relative besar. Pada tahun 2000 saja Indonesia sudah memiliki penduduk sebesar 206.264.595 jiwa. Namun, dengan jumlah penduduk Indonesia yang besar tersebut, perekonomian Indonesia masih tergolong lambat pertumbuhannya. Dengan artian negara ini masih dalam lembah kemiskinan atau belum bisa memenuhi kebutuhan masyarakat secara menyeluruh.
Fenomena diatas berbeda dengan China yang juga berkependudukan tinggi. Namun, tidak bernasib sama seperti Indonesia. Pertumbuhan perekonomian China relatif besar, terbukti tahun antara tahun 1980 sampai 2005, perekonomian China tumbuh hingga angka 10% dan pada tahun 2009 mencapai 8,9%. Angka ini merupakan angka yang lebih besar dari prediksi para ahli ekonomi negara tersebut. Perkembangan perekonomian China terus membaik semenjak periode1980-an. Padahal di awal tahun 1990-an, penduduk keturunan China bertambah1% di Filipina, di Indonesia menigkat sebesar 2-3 %, di Thailand mencapai 10%dari total penduduk Thailand, dan di Malaysia hingga sepertiga dari total penduduk Malaysia.

Pembangunan penduduk.
Penduduk mempunyai peran yang strategis dalam pembangunan sebuah negara. Penduduk adalah objek sekaligus subjek dari pembangunan dalam sebuah negara. Penduduk sebagai objek pembangunan artinya bahwa tujuan pembangunan adalah untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Sebagai subjek pembangunan, penduduk sebagai pelaku yang akan melaksanakan pembangunan.
Secanggih apapun teknologi yang digunakan, sebesar apapun modal fisik yang tersedia, jika penduduk tidak mempunyai nilai lebih dalam melaksanakan pembangunan (tidak berkualitas), maka dapat dikatakan bahwa negara tersebut sulit untuk maju.Jadi penduduk di sini sebagai salah satu modal yang terpenting dalam membangun sebuah negara. Dimana setiap individu seharusnya mempunyai pengetahuan, pengalaman, keterampilan dan kemampuan inovasi.
Dalam hal ini negara / pemerintah dapat mengembangkan SDM melalui berbagai macam cara, seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi dan sebagainya.Tanpa mengabaikan fungsi yang lainnya maka pendidikan dan penguasaan teknologi adalah prasarat utama dalam menghadapi era yang semakin canggih. Saat ini telah diakui bahwa pengembangan sumber daya manusia (SDM) suatu negara adalah unsur pokok bagi kemakmuran dan pertumbuhan serta untuk penggunaan yang efektif atas sumber daya modal fisiknya. Investasi dalam bentuk modal manusia (human capital) adalah komponen integral dari semua upaya pembangunan.

Simpulan
Adanya sumber daya manusia yang memadai tidak akan berguna jika tidak diatur sedemikian rupa agar didapat kemanfaatan yang besar bagi masyarakat dan negara secara keseluruhan, karena ini adalah “hasil budaya” dalam kehidupan manusia. Sumber daya manusia apabila diatur dengan baik akan dapat menentukan kemajuan suatu negara dan sumber daya manusia yang ada adalah berkualitas atau dengan kata lain kualitas sumber daya manusia menentukan kemajuan suatu negara, negara dalam hal ini adalah “payung” tempat manusia diatur melalui kebijakan-kebijakan yang sesuai dengan kepribadian bangsa.
Suatu negara secara umum dikatakan “maju” apabila negara tersebut dapat menunjukkan adanya tekhnologi dan industri yang baik, sebab secara umum juga diakui bahwa negara yang maju dalam tekhnologi maupun industri akan dapat bersaing dengan negara lain yang kurang atau tidak maju teknologi maupun industrinya secara positif.
Keunggulan dalam bidang teknologi dan industri ini adalah sejajar dengan adanya kemampuan untuk menyerap ataupun untuk menemukan sesuatu yang baru yang dapat dipakai untuk mempertinggi nilai hasil sumber daya alam yang ada sehingga akan mendapatkan “nilai tambah” yang pada gilirannya akan menambah kesejahteraan negara entah itu lewat kebijakan pajak ataupun lewat penjualan ataupun royalty yang dibayarkan oleh pemakai jasa dan produksi yang telah diubah lewat tekhnologi dan industri yang ada.

Penulis:  Rosyidin, drs.mm.mmku
Kepala Seksi Pengolahan Data Dan Informasi

 

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan.

*